assalamualaikum

sodiqi usrati...=)

Showing posts with label Junjungan Mulia SAW. Show all posts
Showing posts with label Junjungan Mulia SAW. Show all posts

Sunday, February 13, 2011

Episod Cinta di Akhir Hayat Nabi Muhammad

Berikut ini adalah sepenggal kisah dari episode kehidupan Nabi Muhammad saw yang dinukil dari kitab “Duratun Nashihin”. Kisah ini menggambarkan keadilan Rasulullah dan kecintaan para sahabatnya. Sebuah cinta yang berlandaskan iman dan berbalas surga.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa setelah dekat wafat Nabi Muhammad SAW, Beliau memerintahkan Bilal untuk menyerukan shalat kepada manusia. Bilal lalu menyerukan Adzan dan berkumpullah para Sahabat Muhajirin dan Anshar ke Masjid Rasulullah SAW. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat ringan bersama para sahabat. Kemudian naik mimbar, memuji dan menyebut keagungan Allah SWT.

Beliau berkhutbah dengan sebuah khutbah yang dalam, hati menjadi takut karenanya, dan air mata bercucuran kerananya.

Kemudian Beliau bersabda: “Wahai sekalian muslimin, sesungguhnya aku adalah seorang Nabi kepada kamu, pemberi nasihat dan berda’wah kepada Allah SWT dengan seijinNya. Dan aku berlaku kepadamu sebagai seorang saudara yang menyayangi dan sekaligus sebagai ayah yang belas kasih. Barang siapa diantara kamu yang mempunyai suatu penganiayaan pada diriku, maka hendaklah dia berdiri dan membalas kepadaku sebelum datang balas membalas di hari kiamat.”

Tidak ada seorangpun yang berdiri menghadapnya, sehingga Beliau bersabda demikian kedua kali dan ketiga kalinya. Barulah berdiri seorang laki-laki bernama Akasyah bin Muhshin.

Berdirilah dia di depan Nabi Muhammad SAW dan berkata: “Demi Ayah dan Ibuku sebagai tebusanmu Ya Rasulullah, seandainya engkau tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali, tentu aku tidak akan mengajukan sesuatu mengenai itu. Sungguh aku pernah bersamamu di Perang Badar. Saat itu untaku mendahului untamu. Maka turunlan aku dari unta dan mendekatimu agar aku dapat mencium pahamu. Tetapi engkau lalu mengangkat tongkat yang biasa engkau pergunakan untuk memukul unta agar cepat jalannya dan engkau pukul lambungku. Aku tidak tahu apakah itu atas kesengajaan dirimu atau engkau maksudkan untuk memukul untamu ya Rasulullah?”.

Rasulullah bersabda: “Mohon perlindungan kepada Allah hai Akasyah, kalau Rasulullah sengaja memukulmu.”

Bersabda lagi Beliau kepada Bilal: “Hai Bilal, berangkatlah ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku.”

Maka keluarlah Bilal dari Masjid sedang tangannya diatas kepalanya: “Ini adalah Rasulullah, sekarang Beliau memberikan dirinya untuk diqishash.”

Dia mengetuk pintu Fathimah, dan bertanyalah Fathimah: “Siapa yang ada di depan pintu?”

Bilal menjawab: “Aku datang untuk mengambil tongkat Rasulullah”

Fathimah bertanya: “Hai Bilal, apa yang akan diperbuat Ayah dengan tongkat itu?”

Bilal menjawab: “Hai Fathimah, Ayahmu memberikan dirinya untuk di qhisash.”

Fathimah bertanya lagi: “Hai Bilal, siapakah yang sampai hatinya mau membalas pada Rasulullah?”

Lalu Bilal mengambil tongkat itu dan masuklah dia ke Masjid serta memberikan tongkat itu kepada Rasulullah, sedang Rasul kemudian menyerahkannya kepada Akasyah.

Ketika Abu Bakar dan Umar ra. memandangnya, maka berdirilah mereka berdua dan berkata: “Hai Akasyah, aku masih berada didepanmu, maka balaslah kami dan janganlah engkau membalas kepada Nabi Muhammad SAW.”

Bersabdalah Rasulullah SAW: “Duduklah engkau berdua, Allah telah mengetahui kedudukanmu.”

Berdiri pula Ali ra. dan berkatalah dia: “Hai Akasyah, aku masih hidup di depan Nabi Muhammad SAW. Tidak akan aku sampai hati kalau engkau membalas Rasulullah SAW. Ini punggungku dan perutku, balaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tanganmu.”

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hai Ali, Allah telah mengetahui kedudukan dan niatmu.”

Berdiri pula Hasan dan Husain, dan mereka berkata: “Hai Akasyah, bukankan engkau mengenal kami berdua. Kami adalah dua orang cucu Rasulullah. Membalas kepada kami adalah sama seperti membalas kepada Rasulullah.”

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Duduklah engkau berdua wahai penyejuk mataku.”

Kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hai Akasyah, pukullah kalau engkau mau memukul.”

Akasyah berkata: “Ya Rasulullah, engkau memukulku dahulu dalam keadaan aku tidak terhalang pakaianku.”

Lalu Rasulullah menyingkapkan pakaiaannya, dan berteriaklah orang-orang Islam yang hadir seraya menangis.

Ketika melihat putihnya jasad Rasulullah, Akasyah menubruknya dan mencium punggungnya.
Berkatalah dia: “Nyawaku sebagai tebusanmu ya Rasulullah, siapakah yang akan sampai hati untuk membalasmu ya Rasulullah. Aku melakukannya hanya mengharapkan agar tubuhku dapat menyentuh jasadmu yang mulia, dan Allah akan memelihara aku berkat kehormatanmu dari neraka.”

Bersabdalah Nabi Muhammad SAW: “Ingat, barang siapa yang ingin melihat penghuni surga maka hendaklah dia melihat orang ini.”

Semua orang Islam yang hadir berdiri, dan mencium antara kedua mata Akasyah seraya berkata: “Beruntung sekali engkau, engkau berhasil mendapatkan derajat yang tinggi dan berkawan dengan Nabi Muhammad SAW di surga.

Subhanallah!! sungguh Baginda sangat adil! memang mencemaskan saat Akasyah ingin melakukan pembalasan tersebut...namun begitu, siapalah yang sanggup membalas terhadap Rasulullah...

Friday, February 11, 2011

ANEKDOT DI AKHIR KEHIDUPAN RASULULLAH

“ENGKAU SAKIT YA RASULULLAH”
Para sahabat duduk berbaris dalam saf-saf yang teratur.Mereka duduk iktiqaf dengan tenang menunggu kedatangan Rasulullah s.a.w yang akan mengimami jemaah.
Tidak lama sahabat menunggu,Rasulullah s.a.w muncul di masjid.Kedatangan baginda menimbulkam suasana tenang dan khusyuk.Begitulah sentiasa.Bila berjumpa dengan baginda,sekeras mana pun hati manusia,akan segera lembut terutamanya apabila memandang wajah baginda yang bercahaya dan selalu tersenyum.
Saidina Bilal berdiri,lalu menyerukan iqamat.Para sahabat beratur di belakang Rasulullah s.a.w,menunaikan perintah Allah s.w.t bersama-sama baginda.Inilah ketenangan dan nikmat yang tidak terkira buat para sahabat.
Ketika Rasulullah membaca surah pada rakaat pertama.para sahabat mendengar alunan suara baginda menggeletar perlahan.Dan setiap kali Rasulullah menggerakkan tubuh  untuk rukuk dan sujud,terdengar bunyi seakan-akan pergeseran sendi.Adakah baginda sakit?
Selepas salam dan doa,Saidina Umar mewakili para sahabat lalu bertanya, “Engkau sakitkah ,ya Rasulullah?”
Baginda lalu menggeleng lembut lalu berkata,”Tidak,ya Umar.Alhamdulillah aku sihat dan segar.”
“Pasti engkau sakit ya Rasulullah,”ungkap Saidina Umar untuk memastikan.
Baginda melemparkan senyuman ceria.Tetapi wajah baginda nampak sedikit pucat.
Ya Rasulullah…..Kenapa setiap kali engkau menggerakkan tubuh,kami dengar bunyi sendi-sendi bergesel di tubuhmu?.Kami yakin engkau sedang sakit…..,” desak Umar penuh kebimbangan.
Akhirnya Rasulullah s.a.w mengangkat jubahny.Para sahabat terkejut.Perut Rasulullah s.a.w yang kempis,kelihatan terlilit sehelai kain yang berisi batu-batu kelikir,untuk menahan rasa lapar.Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh Rasulullah.
Saidina Umar menangis.Para sahabat yang lain turut sedih dan pilu.
Rasulullah s.a.w tersenyum memandang sahabat-sahabatnya.Dia tahu betapa kasihnya mareka terhadapnya.Hatta nyawa sanggup mereka korbankan untuk Rasulullah s.a.w lalu baginda menjawab dengan lembut.”Tidak para sahabatku, aku tahu apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu.Tetapi apakah yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti,apabila aku sebagai pemimpin menjadi bebanan kepada umatnya pula?Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku,agar umatku kelak tiada yang kelaparan di dunia ini.Lebih-lebih lagi tiada yang akan kelaparan di akhirat kelak.”
Pagi itu para sahabat keluar dari masjid dengan wajah tertunduk.Ingatan terhadap pengorbanan nabi mereka yang tercinta kepada umatnya,masih kukuh terpahat di hati masing-masing,membuat cinta dan kasih mereka makin subur pada baginda.
KINI MIHRAB ITU LENGANG

Subuh itu ketika Bilal mengumandangkan azan,nabi s.a.w belum juga sampai di masjid.Selalunya baginda datang lebih awal daripada para sahabat.
Selepas azan,Bilal bergegas mendatangi rumah Rasulullah s.a.w.Dari luar Bilal berseru “Assalamualaikum,ya Rasulullah,”
Tidak terdengar jawapan.Bilal masih menunggu.Tiba-tiba keluar puteri Rasulullah,Fatimah rha.Dengan wajah sedih Fatimah menyahut “Waalaikumussalam,ya Bilal.Rasulullah sedang sakit tenat.”Bilal kembali ke masjid dengan penuh tanda tanya.Para sahabat yang lain telah menunggu kedatangan Rasulullah s.a.w.Baginda belum juga samapai,sedangkan waktu subuh sudah lama masuk.Bilal segera menuju semula ke rumah Rasulullah s.a.w dan sekali lagi memberi salam,”Assalamualaika,ya Rasulullah.Subuh semakin tinggi ya Rasulullah!
Nabi menyedari kedatangan Bilal.Dengan suara berat baginda menjawab salam lalu berkata ,”Ya muazzina Rasul.Suruhlah Abu Bakar mengimami sembahyang subuh.Aku masih terasa demam dan tidak kuat untuk berdiri sahabatku.”
Bilal tersentak.Dengan perasaan cemas ia melangkah longlai ke masjid.Disampaikan pesan baginda kepada Abu Bakar agar memimpin sembahyang berjemaah.
Bergetar hati Saidina Abu Bakar menerima pesanan tersebut.Ia sangat memahami makna yang tersirat di sebalik itu.Tidak mungkin Rasulullah s.a.w menugaskan orang lain menjadi imam jika baginda hanya sakit biasa.Ketika melangkah menuju mihrab dada Saidina Abu Bakar merasa sebak dan berat. dipenuhi perasaan cemas.Saidina Abu Bakar tidak kuasa menahan kepedihan hatinya.Terkenang olehnya ketika Rasulullah s.a.w berdiri di hujung mihrab.Tubuh baginda yang tegap dengan wajah baginda yang teguh melafazkan ayat demi ayat dengan fasih.Seakan gemanya membahana ke segenap pelosok menembusi hamparan gunung dan gurun.
Kini mihrab itu lengang.Yang tersisa hanyalah kenangan di mana kelmarin Rasulullah s.a.w masih memimpin mereka menggapai mereka dalam ibadah yang khusyuk.Tetapi ketika itu,subuh itu,Rasulullah s.a.w sedang berbaring di tempat tidurnya menghadapi kesakitan yang semakin payah dan sukar.
Saidina Abu Bakar menguatkan hati dan mula mengangkat takbir.Lantas beliau membaca fatihah dengan suara yang amat berat.Seolah sembahyang subuh terasa murung dan kehilangan.
Para sahabat seakan tidak punya tenaga untuk keluar dari masjid,sekalipun sembahyang subuh telah berakhir dari tadi.Mereka berkumpul tanpa saling berkata menunggu berita dari rumah Rasulullah s.a.w.
Tiba-tiba datang seorang berlari-lari dengan nafas termengah-mengah.Lalu berseru memanggil Saidina Ali dan Saidina Fadlal bin Abbas.Mereka berdua diminta menemui nabi s.a.w dengan segera.Para sahabat yang lain memandang mereka berdua tanpa berkelip.Dengan berdebar-debar mereka menatap langkah Saidiana Ali dan Fadlal menuju rumah Rasulullah s.a.w.Ada apa?
Setelah menunggu beberapa saat perasaaan para sahabat sedikit lega.Mereka melihat Rasulullah s.a.w berjalan perlahan sambil dipapah oleh Saidina Ali dan Saidina Fadlal.Kaki baginda seakan tidak kuat ketika menaiki tangga masjid.
Baginda kemudiannya solat sunat dua rakaat.Solat yang teringkas pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w.Baginda kemudiannya menuju mimbar.Baginda berusaha untuk menaiki sendiri,tetapi kakinya terasa berat untuk melangkah. Saidina Ali dan Fadlal segera membantu.Kedua tangan nabi nampak gementar bila memegang tangga mimbar.Setelah mengambil nafas seketika,nabi s.a.w lalu mengucapkan khutbah singkat.Getar suara baginda sayup,menyelusup di dalam hati para hadirin yang hanyut di tengah kebisuan.
Wahai sekalian umatku.Kita semua berada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasihNya.Kerana itu bertaqwalah kalian kepadaNya dan taatilah segala hukum-hakamNya.Kuwariskan dua pusaka ini buat kalian.Jika kedua-duanya benar-benar dipegang,nescaya kalian tidak akan pernah tersesat selama-lamanya.Kedua-dua pusaka itu ialah Al-Quran dan As-Sunnah.Barangsiapa yang mencintai aku,kelak dia akan bersama-sama denganku di dalam syurga”.
Setelah itu nabi s.a.w mengakhiri khutbahnya dengan memandang para sahabat satu demi satu.Tatapan mata baginda begitu dalam dan menembus.Dan ketika turun dari mimbar,hampir sahaja baginda terjatuh,namun Saidina Ali dan Fadlal dengan pantas memegang Rasulullah s.a.w lalu dipapah kembali menuju rumah baginda.Sejak itu nabi tidak pernah keluar rumah lagi.
DIALAH MALAIKAT MAUT
Keadaan nabi ketika itu semakin memilukan.Keringat dingin membasahi tubuh baginda yang tergolek payah di atas ‘katil’ pelepah kurma.Kepala baginda tidak berbantal,hanya beralaskan rambutnya yang tebal dan berombak.Tidak ada perabot rumah yang berharga sebagaimana layaknya seorang ketua negara. Rumah baginda nampak lengang dan tenang.
“Assalamualaikum Ya Ahla Baitin Nubuwwah.Salam sejahtera bagi para penghuni rumah kenabian,”suasana sepi yang menyelubungi dikejutkan oleh salam seseorang.Siti Fatimah,puteri nabi s.a.w bergegas menghampiri pintu.Dari celah pintu,ia melihat seorang ‘Arabi yang berpakaian serba putih dengan keharuman yang semerbak berdiri di hadapan rum,ah baginda.Perasaan gerun tiba-tiba menyelinap di kalbunya.
Selepas menjawab salam,Siti Fatimah lalu berkata “Maaf,wahai tuan.Rasulullah s.a.w sedang ditimpa demam yang berat.”
Lalu Siti Fatimah masuk kembali ke bilik nabi.Namun ‘Arabi itu masih tidak berganjak dan kembali memberi salam sambil bertanya “Bolehkah saya masuk?”
Nabi s.a.w tiba-tiba membuka mata,lalu bertanya “Siapakah gerangan yang berada di hadapan pintu itu wahai anakku?”
Siti Fatimah seakan berat hendak menjawab apabila menyaksikan keadaan ayahandanya.
“Saya tidak mengenalinya,ayah.Rasanya baru sekali ini berkunjung ke mari.Dia seorang ‘Arabi berwajah sopan dan berpakaian bersih.Dia memanggil-manggil sejak tadi dan memohon izin untuk menemuimu ayah”,jawab Siti Fatimah.
Bagaikan seorang yang terkejut melihat cahaya suria yang terang,baginda tiba-tiba memandang ke arah puteri kesayangannya,dengan pandangan yang menelusuk jauh sekali.Hati Fatimah bergetar dan sekujur tubuhnya gementar melihat pandangan ayahandanya.
“Tahukah engkau siapakah gerangan ‘Arabi itu wahai puteriku?”tanya nabi s.a.w dengan perlahan.
Siti Fatimah menggeleng.
Nabi s.a.w menjelaskan.Dialah yang menghapuskan kenikmatan yang sementara.Dialah yang memisahkan kasih daripada orang yang menyayanginya. Dialah malaikat maut.”
Siti Fatimah benar-benar terkejut.Wajahnya yang putih bersih,semakin memutih. Dia merintih sambil berkata “Jadi……..mulai hari ini saya tidak dapat mendengar suara sejukmu dan tidak lagi akan dapat menikmati kejernihan wajahmu ayah?”
Rasulullah s.a.w berusaha menahan rasa dukanya.Lalu berkata dengan suara terputus-putus, “Usah menangis anakku.Aku berjanji,engkaulah orang yang mula-mula mengikutiku nanti.”
Puteri kesayangan baginda itu tidak mahu berkata-kata.Namun hembusan bau syurga mampu mententeramkan kesedihannya.Setelah melihat kelegaan mengubat keresahan di wajah puterinya,Rasulullah s.a.w mempersilakan ‘Arabi tersebut masuk.
“Selamat datang,”ucap nabi s.a.w menyambut ketibaan tetamunya dari pembaringan.Dengan nada yang lembut dan perlahan  nabi s.a.w bertanya,”apakah gerangan tujuan kedatanganmu ke sini?”
‘Arabi itu menjawab dengan tenang.Maksud utama saya adalah untuk menziarahi tuan.Kemudian dia terdiam sebentar lalu kembali berbicara,di samping itu saya juga diperintahkan membawa nyawa tuan menghadap ke hadrat ilahi.Itupun jika tuan izinkan,”
Nabi s.a.w lalu tersenyum ramah dan bertanya,”Di manakah engkau tinggalkan Jibril?”
Malalikat Izrail menjawab,”Dia sedang berada di langit dunia.Sejumlah malaikat mengiringinya.”
Rasulullah s.a.w lalu bersabda “Panggilkan Jibril ke mari.”
Setelah  Jibril datang,dia terus duduk di sebelah kepala baginda Rasulullah s.a.w.Malaikat penghantar wahyu itu dipandang nabi dengan lama sekali.Lalu baginda bertanya “Tidakkah kau tahu ajal yang dijanjikan telah memanggilku?”
“Saya tahu wahai kekasih Allah.Saya tahu,”jawab Jibril perlahan.
Ketika itu tolong khabarkan bagaimana hakku nanti di hadapan Azzawajalla?” tanya nabi.
Jibril lalu berkata “Pintu-pintu langit sudah terbuka dan terhias indah.Para malaikat telah berbaris menunggu kehadiran rohmu.Seluruh gerbang syurga telah terkuak,tempat bersemayammu nanti.”
Jibril mengharap berita itu akan menggembirakan Rasulullah s.a.w.Namun ternyata belum.Wajah Nabi masih dipenuhi kecemasan.Nabi s.a.w diam beberapa ketika.Lalu bertanya “Ceritakanlah padaku,bagaimana nasib umatku di hari pembalasan?”
Rupa-rupanya itulah yang menjadi kerunsingan baginda sekalipun kedudukan yang disediakan untuknya di sisi Allah begitu tinggi.Jibril menyedari apa yang berada di dalam sanubari baginda yang sangat mencintai umatnya dan keselamatan mereka.
Lalu Jibril menghiburkan baginda,”Jangan cemas wahai pemimpin para nabi dan rasul.Dengarkan firman Allah yang pernah disampaikan-Nya padaku. “Kuharamkan syurga dimasuki sesiapa sahaja,umat mana sahaja,kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya.
Seketika wajah nabi s.a.w kelihatan berseri.Baginda merasa tenteram untuk meninggalkan umat yang dicintainya.Seakan baginda lupa maut yang sedang menjemputnya,bila mendengar janji Allah s.w.t buat keselamatan umat yang dikasihinya.
ALANGKAH SAKITNYA SAKARATULMAUT INI……..
Setelah mendengar khabar gembira perihal umatnya di kemudia hari,baginda tersenyum.Kemudian Rasulullah s.a.w mempersilakan malaikat Izrail untuk datang dekat lalu baginda memperkenankan Izrail melakukan tugasnya,mencabut roh baginda yang suci.
Tiba-tiba bilik yang kecil itu menjadi sepi dan sunyi.Dedaun dan pokok kurma di luar tingkap seakan menunduk longlai.Unta-unta menjerum di pasir.Sedang himar dan kuda berhenti buat sementara.Bahkan angin seperti tidak lagi bertiup. Langit bagaikan tasik tak bergelombang.Tak sekepul awan pun bergerak dari tempatnya.Seakan seluurh alam mengisi pemergian baginda,nabi s.a.w penutup yang menjadi rahmat pada sekalian alam.
Izrail pun melaksanakan tugasnya menarik nyawa baginda dari arah kaki secara perlahan-lahan.Sekalipun Izrail boleh mencabut nyawa beribu-ribu makhluk dalam sekelip mata,tetapi ketika itu Izrail menjalankan tugas hanya untuk menghantar pemergian Rasulullah s.a.w ke alam barzakh.
Ketika nyawa baginda sedang ditarik perlahan-lahan denagn lemah-lembut, kesakitan mulai dirasakan oleh baginda.Dengan amat payah,baginda menoleh ke arah malaikat Jibril,dan berkata dengan perlahan,”Ya Jibril! Ma asyadda marital maut (alangkah sakitnya sakaratulmaut ini)”
Malaikat Jibril memaling muka,tidak sampai hati menyaksikan kepayahan yang dihadapi oleh baginda.
Keadaan itu menyebabkan nabi bertambah bimbang,”Wahai Jibril,apakah engkau tidak suka memandang wajahku?”
Malaikat pembawa wahyu itu cepat-cepat menjawab,”Tidak wahai junjungan.Tiada siapa yang akan sampai hati menyaksikan kekasih Allah berada dalam renggutan ajal.Siapakah yang akan mampu menahan perasaaan menyaksikan pemandangan ini.Betapa seorang rasul terpilih sedang berada dalam kesakitan.”
Wajah baginda lalu berubah dengan mengukir seulas senyuman.Seakan kesakitan yang sedang dihadapi tidak dirasainya.Roh baginda yang suci itu ditarik lagi oleh Izrail.Rasul yang mulia menahan kesakitan bagaikan tetakan 100 mata pedang.
Seketika kemudian ucapan yang perlahan keluar dari mulut baginda,”Ya Allah,betapa dahsyatnya sakit sakaratulmaut ini.Kalau beginilah sakitnya,Ya Allah,timpakanlah seluruh penderitaan maut umatku itu kepadaku agar mereka tidak merasa kesakitan ini.”
Saidatina Aisyah yang memangku kepala baginda terdiam.Siti Fatimah yang tidak mampu berkata-kata terharu dengan ucapan baginda.Sedang Jibril semakin tertunduk.Semuanya dibawa hanyut dengan keagungan cinta Rasul pilihan umatnya.Dalam kesakitan yang sedang dihadapi,baginda masih tetap menaburkan syafaat untuk umatnya.
Sekarang, marilah kita renung dan muhasabah diri kita balik, lebih2 lagi bersempena dengan maulidur rasul yg tinggal beberapa hari je lagi ni...bagaimana kita punya rasa kasih,sayang dan ingat kita terhadap Baginda SAW...??? soalan ini tidak perlu dijawab di sini, cukupla sekadar dijawab dalam hati...